VISI : “ TERWUJUDNYA GENERASI CERDAS, BERILMU, DAN BERAKHLAKUL KARIMAH”

MTs Negeri Tanjung Selor

Guru dan Staf

MTs Negeri Tanjung Selor

Upacara Hari Senin

MTs Negeri Tanjung Selor

Kunjungan Bupati Bulungan Pada Pekan Budaya Birau 2012 di Stand Pameran Jajaran Kemenag Kab. Bulungan

MTs Negeri Tanjung Selor

Jl. Kolonel Soetadji (Kompleks Masjid Agung Tanjung Selor

MTs Negeri Tanjung Selor

Masa Orientasi Siswa (MOS) Siswa baru angkatan 2009

MTs Negeri Tanjung Selor

Perpustakaan adalah gudang ilmu

MTs Negeri Tanjung Selor

Pelepasan Siswa Kelas 9 Alumni Tahun 2011

MTs Negeri Tanjung Selor

Prestasi Siswa Pementasan Tari

MTs Negeri Tanjung Selor

Kaligrafi di setiap ruang kelas

MTs Negeri Tanjung Selor

Masa Orientasi Siswa (MOS) Siswa angkatan 2010

MTs Negeri Tanjung Selor

Kunjungan (Monitoring) Irjen dari Jakarta tahun 2010

MTs Negeri Tanjung Selor

Karnafal Birau Bulungan 2010

MTs Negeri Tanjung Selor

Guru dan Siswa

MTs Negeri Tanjung Selor

Berpose sebelum mengikuti Ujian Nasional tahun 2010

MTs Negeri Tanjung Selor

Berpose sebelum mengikuti Ujian Nasional tahun 2010

MTs Negeri Tanjung Selor

Berpose di Hari Kartini bersama wali kelas

MTs Negeri Tanjung Selor

Hari Kartini di Madrasahku

MTs Negeri Tanjung Selor

Kegiatan Belajar

MTs Negeri Tanjung Selor

Senam Jum'at Pagi

Selasa, 08 Maret 2011

Pendidikan Agama di Otonomi Daerah

KEBIJAKSANAAN DEPAG RI DI BIDANG
PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI
OTONOMI DAERAH

Oleh:
Arief Furchan i



Dengan diundangkannya UU No. 22 Th. 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka terjadilah perubahan mendasar dalam hubungan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat. Hampir seluruh kewenangan pemerintahan yang sebelumnya (sebelum diundangkannya UU tersebut) berada di tangan Pemerintah Pusat kini dialihkan (dilimpahkan) ke Pemerintah Daerah. Inilah yang kemudian di kenal secara umum sebagai Otonomi Daerah yang, oleh beberapa orang disebut sebagai tidak tepat. Menurut orang-orang tersebut, istilah yang benar adalah Desentralisasi.

Menurut Pasal 7 UU tersebut, “Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiscal, agama, serta kewenangan bidang lain.ii Sedangkan bidang lain yang dimaksud “… meliputi kebijakan tenang perencanaan nasional dan pengendalian pembanguan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, system administrasi negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknlogi tinggi yang strategis, konservasi, dan standarisasi nasional.iii

Dari pasal tersebut di atas, dapat dilihat bahwa hanya lima bidang itulah yang tidak berada dalam wewenang Pemerintah Daerah. Artinya, lima bidang tersebut tetap menjadi wewenang Pemerintah Pusat. Istilah umumnya, ke lima bidang tersebut tidak didesentralisaikan (diotonomkan). Agama termasuk dalam lima bidang yang wewenangnya tidak diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Itulah sebabnya maka, ketika banyak departemen sibuk merestrukturisasi dan merampingkan departemennya serta menyerahkan sebagian (besar) pegawainya ke Pemerintah Daerah, Departemen Agama tidak melakukan hal itu. Sebaliknya, Departemen Pendidikan, karena pendidikan tidak termasuk lima bidang yang tetap menjadi wewenang Pemerintah Pusat, termasuk ikut sibuk merestrukturisasi departemennya menjadi lebih ramping dan memindahkan sebagian besar pegawainya (terutama guru) ke Pemerintah Daerah. Hal ini dikarenakan Pasal 8 UU tersebut mengatakan bahwa “Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai denan penyerahan dan pengalihan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut.”iv

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah ‘Bagaimana dengan Pendidikan Agama?’ Apakah dia termasuk bidang Pendidikan (dus, harus diserahkan ke Pemerintah Daerah) ataukah termasuk dalam bidang Agama (dus, tetap menjadi wewenang Pemerintah Pusat)? Bagaimana Departemen Agama dalam hal ini?

Dalam masalah ini, perlu diketahui bahwa Pendidikan Agama yang diurus oleh Departemen Agama (dalam hal ini Dirjen Pembinaan Kelembagaan Islam) ada dua macam: (1) Pendidikan Agama (sebagai mata pelajaran) yang diberikan di Sekolah Umum; dan (2) Pendidikan Agama dalam bentuk kelembagaan seperti madrasah dan pondok pesantren.

Dalam hal Pendidikan Agama di Sekolah Umum, wewenang yang selama ini dimiliki oleh Departemen Agama adalah dalam menentukan isi kurikulum Pendidikan Agama yang harus diberikan kepada siswa, pengangkatan guru agama (dulu pernah diserahkan kepada Depdikbud/Depdiknas), dan pelatihan guru agama (dalam bentuk pre- maupun in- service training). Penempatan guru agama dan penentuan jumlah jam pelajaran agama diserahkan kepada Depdiknas. Sementara itu, dalam hal Madrasah (terutama Madrasah Negeri), wewenang (kewajiban) Depag adalah menetapkan kurikulum (termasuk alokasi jam pelajaran), menyediakan gedung dan fasilitas belajar, menyediakan dana operasional dan gaji pegawai, membina pegawai yang ada di madrasah itu (termasuk kepala madrasahnya).

Untuk merespon UU No. 22 Tahun 1999 ini, pada tanggal 21 Nopember 2000 Menteri Agama telah mengirim surat bernomor MA/402/2000 kepada Mendagriv yang isinya menyerahkan sebagian dari kewenangan yang ada pada Menteri Agama dalam bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan kepada Pemerintah Daerah. Adapun kewenangan yang diserahkan menyangkut aspek-aspek:
1. Operasional Penyelenggaraan;
2. Penjabaran kurikulum;
3. Penyediaan tenaga pendidikan;
4. Penyediaan sarana dan prasarana;
5. Penyediaan Anggaran.
Berdasarkan pasal 8 ayat (1), maka penyerahan wewenang ini akan disertai dengan penyerahan segala asset (gedung, tanah, alat-alat kantor, dsb.) serta sumber daya manusia (guru dan pegawai) serta dana operasional yang selama ini diberikan ke madrasah.

Kebijakan Menag ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, antara lain, adalah demi kemaslahatan madrasah yang bersangkutan. UU No. 22 Th. 1999 ini diikuti dengan UU No. 25 Th. 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Ini berarti akan semakin banyak dana (yang semula berada di Pusat) yang akan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Otonomi Daerah juga mengarah kepada sistem politik yang mengharuskan Pemda lebih memperhatikan aspirasi rakyat di daerahnya daripada kemauan Pemerintah Pusat. DPRD, sebagai cerminan perwakilan rakyat di daerah itu, mempunyai wewenang dan posisi yang lebih besar daripada yang selama ini kita kenalvi. Menyadari bahwa dana yang dipegang Depag untuk pengembangan Pendidikan Agama (terutama madrasah) selama ini masih amat sangat kurang, maka Menteri Agama tidak ingin pengembangan Pendidikan Agama (terutama madrasah) di daerah tidak mendapatkan dana dari Pemda hanya karena Pendidikan Agama tidak diserahkan ke Pemerintah Daerah.

Tanggapan atas surat ini amat beragam. Beberapa Kanwil Depag mengadakan rapat dan ada yang menolak dan ada yang menerima kebijakan ini. Demikian pula dengan Pemda. Tercatat Kanwil Depag Jawa Timur secara lisan menyatakan bahwa rapat di kalangan mereka meminta agar kebijakan ini dicabut. Kanwil Depag Jawa Tengah meminta agar penyerahan wewenang ini dalam kerangka dekonsentrasi, bukan desentralisasi. Kanwil Depag Kalsel meminta para Kandepag agar memperjuangkan adanya Dinas Perguruan Agama Islam di tiap Kabupaten/Kota.

Di fihak Pemda dilaporkan bahwa ada Pemda yang menerima (misalnya Madura dan beberapa Kabupaten/kota di Jawa Timur) namun ada juga yang menolak. Di Jawa Barat, misalnya, dilaporkan bahwa 15 Pemda Kabupaten/Kota positif menerima penyerahan wewenang tersebut dan memasukkan satu/dua sub-dinas dalam Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten/Kota; 13 Pemda masih pikir-pikir, dan satu merasa keberatan.

Dalam menanggapi reaksi yang beragam ini Depag mengambil sikap yang luwes (flexible). Dalam dengar pendapat DPR dengan Menteri Agama baru-baru ini, Menteri Agama menyerahkan sepenuhnya kepada Pemda. Bagi Pemda yang sudah siap untuk menerima penyerahan Pendidikan Agama di daerahnya, maka Pendidikan Agama itu akan diserahkan kepada Pemda. Sebaliknya, bagi Pemda yang berkeberatan atau belum siap untuk menerima penyerahan Pendidikan Agama di daerahnya, maka Pendidikan Agama itu akan tetap menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Pusat. Tentu saja, hal ini juga akan terpulang kepada masyarakat agama di daerah yang bersangkutan sebagai salah satu fihak yang berkepentingan (stakeholders). Apabila mereka menganggap bahwa penyerahan kewenangan di bidang Pendidikan Agama ke Pemda itu lebih bermanfaat bagi mereka, mereka dapat (dan harus) memperjuangkannya ke Pemda maupun ke Pemerintah Pusat (dalam hal ini Depag). Depag telah membukakan pintu untuk itu.

Dalam kaitannya dengan Pendidikan Keagamaan (madrasah) swasta, tampaknya diserahkan atau tidaknya kewenangan di bidang Pendidikan Agama ini tidak banyak pengaruhnya. Hal ini mengingat asset yang diserahkan ke Pemda itu adalah asset yang semula dimiliki oleh Pemerintah Pusat seperti guru negeri, tanah dan gedung yang dibangun dengan dana dari Pemerintah Pusat, dsb. Penetapan kurikulum nasional, pengukuran standar pencapaian kurikulum nasional, masih tetap dipegang oleh Pemerintah Pusat. Lembaga Pendidikan Keagamaan (madrasah) swasta selama ini memiliki asetnya sendiri dan itu tidak akan diserahkan ke Pemda. Di era desentralisasi ini, madrasah swasta, terutama di daerah yang dimenangkan oleh Partai yang didukung oleh masyarakat Muslim, akan lebih mudah mencari dukungan Pemda untuk mengembangkan madrasahnya. Karena sekarang penyusunan anggaran dilakukan oleh DPR bersama pemerintah, maka masyarakat pendukung madrasah ini dapat menuntut kepada para wakilnya agar memperjuangkan dinaikkannya anggaran madrasah untuk daerah itu. Apalagi kalau nanti pemilihan anggota DPR itu dilakukan secara langsung perorangan, tidak memilih partai seperti sekarang inivii.

Penutup

Dengan diberlakukannya otonomi daerah, diharapkan kemajuan daerah itu di segala bidang akan makin cepat. Demikian pula halnya dengan masalah Pendidikan Agama. Dengan otonomi daerah diharapkan perkembangan dan arah Pendidikan Agama di suatu daerah akan lebih sesuai dengan harapan dan aspirasi masyarakat agama di daerah itu. Tentu saja ini akan lebih memudahkan bagi madrasah di daerah yang selama ini harus berurusan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta untuk mengembangkan madrasahnya. Kini, mereka cukup berurusan dengan Bupati/Walikota untuk masalah itu. Kebijakan yang diambil Menteri Agama adalah memberi peluang kepada para pengelola madrasah untuk mendapatkan yang terbaik bagi madrasahnya.


Bahan bacaan:
UU No. 22 Th. 1999 tentang Pemerintahan Daerah

i Sekretaris Ditjen Binbaga Islam, Depag RI.
ii UU No. 22 Pasal 7 ayat (1).
iii UU No. 22 Pasal 7 ayat (2).
iv UU No. 22 Pasal 8 ayat (1).

Sumber: http://pendidikanislam.net

Senin, 07 Maret 2011

Jangan ada diskriminasi pendidikan umum dan agama


Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Muhammad Nuh, mengatakan, saat ini tidak boleh ada diskriminasi Pendidikan, misalnya diskriminasi kewilayahan dan diskriminasi keagamaan ataupun diskriminasi status sosial.

“Tidak boleh ada diskriminasi pendidikan keagamaan dan umum. Harus ada komplementari, karena dua-duanya utama, saling melengkapi. Jangan karena perbedaan- seseorang tidak memiliki kesempatan sekolah,” ujar Mendiknas saat konferensi pers ‘International Seminar and Field Visit o Madrasah in Indonesia by E-9 Countries UNESCO’, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (3/11).

Kerjasama Depertemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional dalam ‘International Seminar and Field Visit o Madrasah in Indonesia by E-9 Countries UNESCO’ ini, menurut Nuh, membuktikan bahwa bukan zamannya lagi perbedaan-perbedaan, diskriminasi yang berdasarkan kewilayahan, umum atau agama, maupun status sosial. “Kerjasama ini bukan karena satu rendah, satu tinggi, kesetaraan masdarasah dan bidang lain. Tidak ada diskriminasi,” jelasnya.

Pakar Pendidikan, Arief Rachman, mengatakan pendidikan madrasah bukanlah pendidikan rendahan. ”Jadi janganlah memandang sebelah mata pada lulusan madrasah. Madrasah biasanya dianggap rendah. Dan ini merupakan kesalahan, pandangan yang salah,” katanya.

Saat ini, madrasah di Indonesia berdasarkan data Depag terdapat sebanyak 40.848 buah, 91 persen berstatus swasta dan 9 persen berstatus negeri.

Dirjen Pendidikan Islam, Depag, Mohammad Ali, mengatakan pendidikan madrasah di Indonesia mempunyai sejarah yang berbeda dengan pendidikan sekolah pada umumnya. Menurutnya madrasah memiliki sejarah panjang dan telah dianaktirikan semenjak era Belanda, sehingga sampai sekarang ini dikotomi antara pendidikan madrasah dan sekolah masih saja terjadi termasuk dalam penganggaran.

Meski posisi madrasah sedemikian rupa, kata Ali, namun justru hal itu menjadikan madrasah terjaga indepedensinya. Bahkan menjadi motor dalam mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan. “Baru sekitar tahun 2003 dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, institusi pendidikan Keagamaan Islam disebut dengan jelas,” tegasnya. she/eye(Republika Newsroom,03/11/09)

Smoga saja hal ini dapat tercapai, dan tak ada lagi anggapan yang kurang semestinya terhadap pendidikan di madrasah yang sebnarnya memiliki kualitas yang cukup membanggakan dan tak dapat dipandang hanya dengan sbelah mata saja!

Minggu, 06 Maret 2011

Download file hasil workshop dan diklat guru-guru madrasah


Assalam`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam sukses slalu buat smua yang memiliki rasa kepedulian dibidang pendidikan khusunya madrasah, alhamudulillah sampai saat ini blog MTs masih tetap eksis sejak pertamakali di launching pada bulan juli 2010, usia yang masih belia tentunya masih banyak kekurangan disana sini, namun diharapkan kedepan tetap eksis dan dapat memberikan faedah bagi mereka yang ingin mengakses MTsN Tanjung Selor lewat dunia maya, berbagai cara ditempuh untuk mengembangkan dan membesarkan madarasah ini salah satunya melalui media internet baik blog maupun fanpage facebook smoga bermanfaat, kami berusaha memperbaiki isi, konten, dan tentu konsep blog ini agar tetap dilirik oleh siswa, guru, maupun mereka yang peduli dengan madrasah ini, untuk itu kami mengharapkan dukungannya berupa komentar, masukan, kritikan bahkan minimal jempol (klik suka), serta partisipasi saudara-saudara dapat mengundang atau menyarankan teman-teman yang lain untuk mengunjungi blog maupun fanpage facebook MTsN Tanjung Selor.
Salah satu upaya memaksimalkan blog ini dalam kontribusi sharing dalam kependidikan, kami akan memposting hasil workshop maupun diklat yang diikuti oleh guru-guru MTsN Tanjung Selor agar dapat terakses dan saling membagi ilmu dalam semangat kebersamaan memajukan pendidikan, untuk itu diharapkan partisipasi kepada smua guru di MTsN Tanjung Selor untuk mendokumentasikan hasil workshop dan diklat di blog ini dengan cara kirimkan ke E-mail MTsN Tjg.Selor di: mtsntanjungselor@yahoo.co.id , bagi rekan-rekan seprofesi diluar sana yang sempat membuka postingan ini, kami tidak menutup pintu dalam partisipasi dan sumbangsihnya.

Anda dapat mendownload file dibawah ini :

1.Workshop UKS di Samarinda
Peran lembaga pendidikan dalam dunia pendidikan

2.Workshop UKS di Samarinda
Pendidikan kesehatan

3.Workshop UKS di Samarinda
Sosialisasi tata cara berlalulintas


4.Workshop UKS di Samarinda
Pelayanan kesehatan UKS

5.Workshop waka kurikulum di Samarinda
Rincian deskripsi waka.kurikulum

6.Workshop waka kurikulum di Samarinda
Tugas waka.kurikulum

7.Workshop waka kurikulum di Samarinda
Penilaian kelompok mata pelajaran

Minggu, 20 Februari 2011

MENCARI-JALAN-MENGGAPAI-HARAPAN

Cerita kesejahteraan guru di negeri kita yang dari dulu kurang mendapat perhatian pemerintah mungkin kita sudah bosan mendengarnya. Cerita itu mungkin hampir bersamaan “basinya” dengan predikat yang selalu menempel kepada para guru yaitu “pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun demikian, cerita usang dan predikat yang selalu digembar-gemborkan yang bagaikan kalimat tanpa makna itu ternyata tidak menggoyahkan beberapa insan pendidik yang menjadi narasumber Kick Andy kali ini. Para guru yang menjadi narasumber kali ini tidak hanya mengajar muridnya dengan sepenuh hati. Mereka bahkan mencari jalan dengan berbagai cara agar anak didiknya mudah menerima apa yang mereka ajarkan.

Sepasang suami isteri dari Desa Diwek, Kabupeten Jombang, Jawa Timur misalnya. Mereka menciptakan suatu cara atau metode agar si anak didik mudah menghafal peristiwa atau nama-nama tempat bersejarah di dunia. Metode yang diberi nama Hanifida, singkatan dari nama pasangan suami istri, Hanifudin Mahadun dan Khoirotul Idawati atau Ida. Metode Hanifida menurut mereka adalah memberdayakan otak kiri dan otak kanan. “Anak akan susah menangkap jika melihat angka satu. Tapi dengan metode Hanifida, angka satu sama dengan ikan teri, angka dua sama dengan bebek dan seterusnya,”ujar suami istri itu.Hanifida, menurut mereka adalah jalan, atau cara anak didik mudah mengingat sesuatu. Misalnya warna pelangi, bisa dirumuskan sebagai me-ji-ku-hi-bi-ni-u misalnya, yaitu akronim merah,jingga,kuning,hijau,biru,nila dan ungu.

Jika anak-anak selama ini takut dengan soal hitung menghitung, mungkin penemuan Bahrudin bisa membantu. Pria paruh baya itu menemukan metode “jari aljabar”.Metode ini adalah memakai jari-jari sebagai lambang-lambang angka. Dengan metode jari aljabar yang sudah dipatenkan itu, memudahkan anak didik menghitung, mengurangi atau mengkalikan maupun membagi. “Awalnya saya dianggap orang stress ketika mencoba menemukan metode ini. Karena saya melakukan menghitung dengan jari itu ketika sedang santai di teras rumah,”ujar Bahrudin.

Sementara itu apa yang dilakukan Muhamad Yusuf patut diapresiasi. Guru SMA Martia Bhakti, Bekasi, Jawa Barat itu sebelumnya prihatin dengan kondisi murid-muridnya yang takut dengan pelajaran fisika. Setelah memutar otak, Muhamad Yusuf kemudian menciptakan beberapa alat peraga seperti ruangan yang disulap seperti planetarium. “Jadi murid-murid saya akan mudah memahami ketika saya mengajar tentang tata surya,” kata Muhamad Yusuf menerangkan. Selain itu, Yusuf juga menciptakan helm sepeda motor yang bisa berfungsi sebagai charger telepon genggam. Murid-murid, kata Yusuf, lebih senang belajar dengan apa yang mereka sukai. Yusuf mengaku, tidak keberatan dan tidak merasa repot ketika membuat alat peraga ini. Walau tidak diharuskan membuat sejumlah alat peraga itu, ia akan dengan senang hati akan terus membuat, walau untuk menyiapkan sejumlah alat peraga itu ia harus merogoh koceknya sendiri.

Apa yang dilakukan para guru di atas hendaklah patut diapresiasi. Termasuk apa yang dilakukan seorang guru dari Sulawesi Selatan, Arizenjaya yang mengajarkan pelajaran fisika dengan cara bermain. Begitu juga Herlina yang menemukan cara belajar bahasa Inggris buat anak-anak dengan metode “Easy Reader”.

Mereka mengajar murid-muridnya dengan hati, dan berfikir keras mencari metode yang mudah dan cepat dipahami para siswa. Dengan segala kreatifitas dan pengorbanan mereka hanya punya satu tujuan, mencedaskan anak didik. Mereka bahkan mengesampingkan kesejahteraan dirinya dan keluarganya ( end ). Sumber Kick Andy Show

Selasa, 15 Februari 2011

Peserta Ujian Nasional

Sabtu, 05 Februari 2011

Latihan Dasar Kepemimpinan I Tahun 2011


Kegiatan tahunan itu Alhamdulillah akhirnya bisa berlangsung juga, semoga saja mampu menceetak calon-calon pemimpin. Harapan itu sangat beralasan karena pemimpin tidak lahir begitu saja akan tetapi pemimpin lahir karena diciptakan dan diproses, setiap manusia memanglah lahir bersama talenta yang sudah ditakdirkan olehNya akan tetapi talenta yang dimiliki itu jika tidak diasah, juga nantinya tidak bisa berfungsi bahkan bisa saja manusia itu tidak pernah tahu kelebihannya sampai diakhir hidupnya, untuk menjawab semua itu, OSIS MTsN Tjg.Selor memiliki agenda tahunan yang memfasilitasi siswa dalam mengenal, mengasah, dan menggunakan talenta kepemimpinan siswa.

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) merupakan satu rangkaian dari suksesi kepengurusan OSIS yang insyaallah akan habis masa kepengurusannya di akhir bulan pebruari, maka untuk mensukseskan suksesi kepengurusan OSIS MTsN Tjg.Selor tersebut, diharapkan kegiatan LDK mampu melahirkan calon pengurus yang baru.

Ada beberapa materi yang disuguhi pada kegiatan ini antara lain : pengetahuan tentang organisasi, pengenalan OSIS MTsN Tjg.Selor, disiplin, Kepemimpinan (Leader Ship) dan materi yang mengasykkan lainnya yang disajikan secara teori dan praktek.

Selanjutnya di hari ke-dua peserta diwajibkan mengikuti Outbond, dalam kegiatan ini peserta disuguhkan beberapa permainan yang berintikan kerjasama dan pemecahan masalah, semoga kegiatan ini nantinya dapat diimplementasikan di dunia nyata ......... "asyik juga yach ...... good luck OSIS MTsN Tjg. Selor".


baca artikel lainnya:

Sosialisasi PP No 53 Thn 2010

Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah khususnya Kementerian Agama RI dalam rangka berbenah menata birokrasi (reformasi birokrasi) adalah mendisiplikan pegawai negeri sipil. Lahirnya Peraturan Pemerintah nomor 53 tahun 2010 merupakan bukti nyata keseriusan pemerintah, sekarang tinggal penerapannya saja dan terpulang kepada PNS tersebut dalam menerapkannya.

Tanggal 4 Pebruari bertepatan hari Jum`at kemarin, Kementerian Agama Kabupaten Bulungan mengadakan pertemuan untuk mensosialisasikan PP nomor 53 tahun 2010, pertemuan yang dilaksanakan di gedung aula Kementerian Agama Kabupaten Bulungan itu dihadiri sekitar187 PNS dilingkungan Kementerian Agama Kabupaten Bulungan termasuk para guru-guru pns madrasah se Kota Tanjung Selor, narasumber dalam sosialisasi itu ialah Kepala bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Propinsi Kalimantan Timur (Bapak Drs. H. Ahmad Ridhani, MM)

Semoga saja sosialisasi itu memberikan manfaat buat kemajuan Kementerian Agama dan MTs Negeri Tanjung Selor pada khususnya.


baca artikel lainnya:

Kegiatan Jum`at pagi


Ada yang sedikit berubah degan aktifitas hari Jum`at pagi di MTsN Tjg.Selor, kalo di 6 semester terakhir ini kegiatan Jum`at pagi diisi dengan kegiatan Muhadarah *, maka mulai di semester genap kegiatan Jum`at pagi akan diisi dengan kegiatan senam secara massal diikuti oleh seluruh warga MTsN Tjg.Selor, perubahan jadwal ini diharapkan memberi perubahan positif baik mental, jasmani dan akademik siswa.
Kegiatan senam, selain membugarkan badan juga dapat memberi ruang interaksi antar warga MTsN, bukan saja sesama siswa tetapi antara guru, staf dan siswa yang tentunya dengan atmosfer nuansa kekeluargaan. Ada sedikit pelajaran diperoleh dari kegiatan ini bahwa tidak memandang siswa, guru atau staf, semuanya harus mengikuti gerakan sesuai aturan dan iringan musik, ini memberi inspirasi buat kita semua bahwa begitu indahnya sesuatu jika kita bersatu, seia sekata, kompak dalam bertindak, mungkin itu pesan atau sedikit ilmu yang bisa dipetik dari kegiatan itu, coba bayangkan jika peserta senam bergerak semaunya sendiri dan tidak mengikuti gerakan yang sebenarnya, maka pastilah akan terlihat tidak indah, kacau dan tindak menyenangkan untuk dilaksanakan, demikian analoginya, semoga pelajaran ini bisa kita petik untuk meraih tujuan bersama ........ "Jaya slalu MTsN Tjg.Selor"

*Jadwal Muhadarah Putra : Setiap Hari Kamis Ba`dha dzuhur
Muhadarah Putri : Setiap Hari Sabtu Ba`dha dzuhur

baca artikel lainnya:

Upacara Bendera hari senin

Penggerek bendera

Disiplin harus ditanamkan pada pribadi masing-masing siswa karena disiplin merupakan salah satu modal untuk mencapai kesuksesan di hari mendatang, salah satu praktek penerapan disiplin di madrasah adalah upacara bendera setiap hari senin, siswa diberikan tanggung jawab atau amanah yang diembannya untuk mensukseskan pelaksanaan upacara tersebut, pembiasaan mengemban tanggung jawab kepada siswa pada hakikatnya adalah positif dan jika disadari oleh setiap siswa tentunya mereka akan mengambil banyak manfaat dan pelajaran dari kegiatan tersebut, muaranya bukan saja mensukseskan pelaksanaan upacara namun juga mereka mendapat pembelajaran lain bahwa tanggung jawab atau amanah itu dapat terlaksana dengan baik jika dibarengi oleh kedisiplinan, olehnya itu sudah menjadi tradisi di MTs Negeri Tanjung Selor menjadikan Upacara hari senin sebagai momen untuk latihan serta wadah latihan untuk siswa mengasah tanggung jawab dan kedisiplinan mereka, kita harap semoga siswa MTsN Tjg.Selor dapat mengambil kesempatan tersebut sebagai bekal mereka melanjutkan masa depan dalam meraih kesuksesan .......

baca artikel lainnya:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More